Berbisnis lewat blog

Sore tadi saya beli “Tutorial & Script Mesin Uang WordPress” yang dipublish oleh CafeBisnis.com Saya pikir ini perlu saya pelajari manatahu suatu hari nanti saya benar-benar siap membangun bisnis online dengan lebih serius lagi.

Sekarang ini saya masih belum punya konsep yang matang, bisnis online seperti apa yang ingin saya buat. Ada beberapa ide yang melintas, namun karena ilmu bisnis internet saya masih terbatas, saya perlu belajar dulu, ya termasuk berguru ke sekolah internet marketing Asian Brain. Saya perlu menyampaikan terima kasih sekali pada sahabat saya Jonru, sebab lewat tulisan-tulisannya saya jadi positif terhadap Anne Ahira, padahal sudah cukup lama saya sangat “negatif” dengannya. Sampai akhirnya saya ikut bergabung lewat referensi Jonru, sekitar 4 bulan yang lalu.

Sebagai murid yang baik, bagaimanapun saya perlu praktek, praktek, praktek. Nah salah satu case study saya adalah mencoba menarik penghasilan-penghasilan online dari berbagai peluang yang ada di internet saat ini. Untuk sementara saya mencoba praktek dari bisnis lokal dulu. Termasuk lewat blog tentu saja.

Dalam pandangan saya kalau kita berbisnis, apakah itu “bisnis darat” ataupun bisnis online, kita harus punya konsep (baik matang ataupun baru setengah matang). Tulang punggungnya adalah Ide. Ini yang mahal. Tapi sayangnya, ide tidak lagi bisa kita dapatkan dengan cara bertapa atau yang sejenis itu. Ide memerlukan bahan berupa input-input gagasan, informasi, pengetahuan dan fakta-fakta. Semua input itu bila terus kita “panasi” … suatu saat akan meledak juga. “Aha! Ini dia”, kita akan terloncat bangun saking excited dengan ide itu. Tapi itu cara saya. Mungkin saja teman-teman yang lain punya cara yang berbeda. Monggo …

Dalam terminologi Kiyosaki, kita harus bisa “menciptakan uang”, bukan mengejar atau mencari uang. Ini artinya harus ada konsep. Ide bisnis. Saya sadari betul hal itu. Dalam bisnis darat, ya seperti itulah yang saya lakukan.

Arti sederhananya gini: saya perlu “menciptakan dulu uang di otak” lalu kalau uang itu sudah mewujud di alam batin saya bahkan sudah benar-benar matang termasuk skenario dan sistemnya, barulah kemudian “saya print” jadi uang beneran. Ha ha …

Ah tapi itu nanti ajalah. Sekarang saya cari penghasilan online saja dulu, minimal lewat blog. Maklum masih praktek …

Pekerjaan di rumah itu tak mengenal gender

Alhamdulillah, hari ini sedang berjalan pelatihan terbaru yang saya kelola, yaitu Pelatihan Dokumentasi dan Presentasi Citra Audio Visual yang di organize oleh Keynote Speaker Indonesia, di Hotel Grand Preanger, Bandung selama 3 hari, sampai besok.

Sebenarnya bidang ini tidak saya kuasai. Untuk membuat konsep bisnisnya saya harus belajar cukup banyak mempelajari potensi pasar, pesaing dan diferensiasi konsep produk yang akan ditawarkan. Setelah mempelajari 2 bulan, dan konsepnya sudah cukup matang, saya pun bismillah saja. Kami tawarkanlah konsep ini ke beberapa instansi dan perusahaan. Alhamdulillah, ternyata sambutannya luar biasa juga, walau pricenya cukup tinggi yaitu Rp. 2,9 juta per orang.

Istri saya ternyata tertarik juga, pengen ikutan. “Tapi gratis ya,” pintanya. Dia pengen sekali bikin video tutorial untuk pembelajaran anak-anak. Minatnya untuk pendidikan anak-anak memang luar biasa. Banyak inovasinya yang menurut saya “mestinya sudah dipublish”  tapi belum. Mungkin belum waktunya …

Jadilah kini giliran saya yang ngurusin anak-anak. Kami memang sering berganti peran. Kami rasa pilihan seperti itu yang terbaik. Kami tak mau ada pembantu atau babysitter yang mengurus anak-anak kami yang masih kecil-kecil. Kami tahu betapa berbahayanya memberikan “pendidikan usia dini” kepada orang lain yang mungkin tidak terlalu berpendidikan, dan tidak punya kasih sayang kepada anak kami. Kami tidak rela, otak anak-anak kami “di-install” oleh babysitter yang kadang tak menyadari bahwa apapun yang ia lakukan akan ditiru oleh anak-anak kami.

Itulah salah satu alasan mengapa saya lebih memilih “ngantor” di rumah, dengan memindahkan semua operasi bisnis kami keluar rumah, termasuk karyawan dan perangkat operasional mereka. Buat saya, sampai anak-anak saya baligh, biarlah saya “mengalah” untuk tetap bersama mereka, membina mereka, menyayangi mereka dengan kehadiran kami orang tuanya, di tengah beragam aktivitas hidup mereka.

Sebab itu saya tak sungkan untuk memperlihatkan kepada mereka bagaimana saya, ayahnya, juga mau mencuci baju mereka, menyuapi mereka, memandikan mereka … kecuali satu, memasak (nah ini saya belum bisa, he he). Saya menganggap kegiatan itu sebagai salah satu pelajaran in-action buat mereka bahwa pekerjaan di rumah itu tidak mengenal gender.

Saya masih banyak melihat para bapak yang nyuruh-nyuruh istrinya ngambilin minum, masakin mie, ambilin sepatu, dan entah apa lagi … Emangnya itu tugas para wanita? Mengapa? Apakah karena itu tugas orang rumah? Padahal apa susahnya untuk melakukannya sendiri.  Ya kan?

Yang lebih sedih lagi, kalau pekerjaan seperti itu saya lakukan misalnya, yang memarahi saya justru orang tua saya, bahkan termasuk ibu saya. Katanya, “Kamu kok mau?” Lalu keluarlah berbagai tausiah nasehat bagaimana seharusnya seorang lelaki di dalam rumah tangga.

Tapi itu dulu. Kini kedua orang tua saya sudah paham, ketika saya ceritakan kepada mereka bagaimana perilaku Rasulullah SAW yang sangat menghargai istri-istrinya, bahkan membiarkan dirinya terkurung di luar rumah (tak bisa masuk) karena pulang sudah terlalu larut malam. Beliau tak ingin mengganggu istrinya yang sedang tertidur lelap. Saya ceritakan juga bagaimana Imam Ali Kw membantu berbagai pekerjaan istrinya di rumah, dsb.

Ah udah dulu ya … ntar lanjut lagi. Anak-anak sudah manggil saya. Pengen “bongkar sepeda” katanya.

Waspadai Bisikan Al-Khannas

Awalnya saya takut punya impian. Saya pikir, “Ah mana mungkin? Zaman serba susah sekarang ini mau punya impian apa lagi? Bisa hidup aja udah syukur! Udah lah ngga usah ngoyo!”

Kok jadi takut dengan kata-kata seperti itu ya? Tapi saya pikir itu banyak terjadi. Saya sendiri pernah begitu. Suatu saat saya baca sebuah buku yang mengupas tentang Al-Khannas, yang sering membisiki manusia. Al-Qur’an juga menasehati kita untuk waspada dengan al-khannas ini (surat An-Nas). Saya lupa judul bukunya. Udah lama sih … Digambarkan di buku itu, betapa banyak sekali kehidupan kita ini dipengaruhi al-khannas, yang umumnya berciri “ajakan negatif dan menghalangi perbuatan positif”. Dalam shalat aja, kita sering dibuat ragu-ragu udah berapa rakaat kita shalat, dsb.

Karena itu kalau ada bisikan negatif , waspadalah, jangan-jangan al-khannas berusaha mempengaruhi kita. Termasuk ketakutan kita untuk punya impian. Akan banyak sekali alasan-benar yang akan disodorkan al-khannas untuk membuktikan bahwa kita tak layak untuk punya impian.

Kini, saya tak mau dengar lagi bisikan al-khannas itu untuk banyak keadaan saya setiap hari. Sikap ragu, terlalu khawatir, tak berani ambil keputusan, adalah efek-efek yang ditimbulkannya. Cara mengatasinya, mudah sekali ternyata. Ambil keputusan, dan fatawakkal ‘alaAllah (tawakkal).

Contoh lain, ketika akan menelpon seorang calon klien, biasanya datang pikiran-pikiran negatif. “Ah kayaknya dia pasti nggak mau. Pasti dia marah ditelpon jam segini, dsb” Tiba-tiba saja al-khannas menyodorkan berbagai skenario negatif di benak kita. Macam-macam bentuknya. Lalu kita jadi takut, ragu dan nggak berdaya. Intinya ga jadi nelpon.

Obatnya … ambil telpon, tekan saja, lalu sambil berdiri, katakan “Hello”. Pasti aman kok.

So, kalau ada yang kita takuti, “LAKUKAN SAJA APA YANG KITA TAKUTKAN ITU”. Saya terus mencobanya, dan akan terus mencobanya. Termasuk bermimpi. Tuliskan saja! Kalau belum sampai 100 item, berarti anda masih takut … Jangan bertanya apakah itu mungkin tercapai atau tidak, tuliskan saja. Explore impian-impian anda … jangan-jangan sudah banyak yang Anda kubur, tanpa sengaja. Bangkitkan, keluarkan, hidupkan, beri “makan”. Lalu lihatlah hasilnya …

Kalau bisa ngantor di rumah, kan lebih enak

Aih, lega rasanya sudah di rumah lagi. Seharian ini saya “terpaksa” berangkat ke Sumedang memenuhi tugas. Untunglah saya bisa pulang pergi dan pas “isya sudah di rumah lagi. Wuihh, anak-anak senang banget. Apalagi kalau bukan karena oleh-oleh. he he

Rumah emang selalu jadi tempat yang paling saya sukai. Walau tidak mewah, tetap aja saya lebih nyaman berada di rumah. Hati saya memang selalu terpaut ke rumah. Karena itu saya terus ngutak atik gimana caranya agar semua aktivitas saya bisa diorganisir dari rumah. Baik urusan bisnis, maupun organisasi.

Nah karena hampir setiap hari di rumah, awalnya banyak juga para tetangga pada heran. Habis, emang persis benar kayak pengangguran. Sehari-hari yang mereka lihat saya main aja dengan anak-anak. Hanya sesekali mungkin mereka lihat saya keluar “kayak orang kerja”. Saya hanya tersenyum saja.

Ini memang impian saya sejak lama. Sebenarnya saya termasuk orang yang “gila kerja”. Dulu saya ninggalin rumah bahkan bisa berbulan-bulan, gara-gara proyek. Hati saya sering sedih, ketika pulang ke rumah anak-anak jarang bisa bermain dengan saya. Tapi itu dulu. Sejak 4 tahun ini saya ubah arah.

Jika anda tak berani mengubah arah,
hidupmu sama persis dengan hari kemaren
…”

Kata-kata itu sering saya ulang-ulang. Akhirnya saya putuskan saya harus mengubah arah. Yang perlu saya lakukan cuma memilih dan memilah strategi yang tepat agar impian itu bisa saya peroleh. Walau awalnya sulit, saya berusaha untuk bertahan. Ya bertahan, memegang erat impian itu. Godaan dan rintangan (mental terutama) harus saya hadapi. Saya pun tinggalin proyek-proyek dan bisnis yang membuat saya sibuk diluar rumah. Saya pikir saya harus punya “model baru” dalam usaha dan berkegiatan. Model itulah yang harus saya bangun.

Setelah melewati uji coba berkali-kali akhirnya alhamdulillah bisa juga. Saya buat perusahaan yang bisa dijalankan secara “virtual”. Para pengelola usaha saya termasuk para karyawan saya “pulangkan” ke rumah mereka dan membekali mereka dengan perangkat komputer agar bisa “ngantor” di rumah saja. Ya semacam “virtual office”. Kami berkomunikasi cukup dengan telpon dan internet. Alhamdulillah, khususnya sejak setahun ini, cara ini berjalan lancar. Sesekali kami ketemu untuk diskusi masalah dan pemecahannya. Uih, saya pikir enak juga.

Untuk membesarkan usaha, saya terpaksa “mengorbankan” keuntungan saya dan membangun kolaborasi dengan para pengelola. Walau awalnya mereka nggak ngerti apa-apa, namun dengan sedikit demi sedikit dibina, toh akhirnya mereka bisa juga. Awalnya memang “merepotkan” saya, karena banyak salah, bisa rugi, capek membina mereka … namun nggak terlalu lama, akhirnya ketika mereka sudah bisa … saya pun bisa bebas. Lalu nyari lagi “pengelola” baru. Biar nambah lagi usahanya tentu.

Sekarang saya ikutan belajar internet marketing dengan anne ahira. Baru 4 bulan sih. Ternyata materinya banyak banget dan menurut saya luar biasa! Amat sangat membantu saya. Jadinya sekarang saya menemukan lagi impian baru … insyaAllah nanti saya cerita ya :)